Penantian seorang Bunda
December 6th, 2008 by neng-deti
Karawang malam ini berkelabut.
Wangi tanah basah masih kental menusuk hidung.
Dengung nyamuk yang biasanya menemani aktivitas memasakku kali ini hening.
Kedigdayaan mereka telah terkalahkan oleh hempasan angin sisa hujan sore tadi.
Dengung itu kini berganti dengan suara bersahutan kodok dan jangkrik di antara sela rumput liar penghuni rumah kosong di penghujung jalan.
Suara alam yang syahdu.
Menelusuk sampai tulang igaku. Ngilu.
Jam 19.30. Masakanku sudah siap diatas meja.
Sapo Tahu udang berhiaspakcoy kukus.
Mmhhh…. harumnya menembus jiwa.
Seperti biasa. Sepi kemudian menghinggapi sukma.
Menanti detik demi detik kedatangan pujaan hatiku.
Tak ada televisi yang bergemuruh meneriakkan fatamorgana dunia untuk meramaikan suasana.
Aku dan sapo tahu. Hanya ditemani nyanyian alam duet antara kodok dan jangkrik.
Kuambil Satelite A200-ku dari tasnya yang sudah mulai lusuh.
Kubuka layar notebook setiaku itu.
Tiga malaikat kecil muncul kemudian.
Kupandangi wajah mereka satu persatu. Dari kiri ke kanan.
Lekat. Seakan nyata, kuciumi walau hanya berwujud screensaver.
Nibras Zakkiya Qotrunada (Yayas). Anak sulung kakak ketigaku. Umurnya belum juga genap 4 tahun. Tapi otaknya cemerlang. Keterampilan baca tulis dan berhitungnya setara murid SD kelas 2. Mengajinya tak perlu diragukan. Disaat anak seusianya masih membolak-balikkan IQRO jilid pertama, perempuan kecil berhidung bangir ini sudah menghatamkan jilid ke-6. Belum lagi kosakata bahasa inggrisnya. Tanyakan dia vocabulary hewan, warna dan tumbuhan dalam bahasa inggris. Suaranya yang nyaring akan bersahutan dengan setiap pertanyaan yang terlontar. She’s a briliant girl! Siapa dulu dong tantenya….?
Amira Rahma Jarulloh (Eneng Amira). Anak ketiga dari empat anak-anak kakak pertamaku. Umurnya saat ini lebih dari 2 tahun. Rambutnya yang ikal membuat ciri khasnya diantara semua cucu-cucu ayah ibuku menjadi lebih nyata. Wajahnya oriental. Bentuk wajahnya yang oval semakin indah dinaungi dua alisnya yang melengkung sempurna. Saat matanya tertutup, akan muncul dua garis tirus melengkapi kesempurnaan alisnya. Wataknya keras membuat siapapun anak sebayanya menisbatkan dia menjadi ketua gank dalam setiap kelompok kecilkomunitas anak-anak. Tak ada yang berani menolaknya meminjam mainan. Dibalik kekerasan wataknya, ada bakat seni terpendam dalam dirinya. Nyalakan saja simphony No.3 Ludwig van Beethoven. Kakinya akan berjinjit, tangannya dilentikan ke udara dan pinggangnya akan meliuk sempurna mengikuti alunan lagu. Berjinjit. Melangkah setapak demi setapak. Kemudian berputar. Setelah itu melangkah lagi. Masih dengan jinjitan kakinya dia melompat. Meregangkan kakinya di udara dan mendarat sempurna masih dengan posisi kaki berjinjit. Balet adalah aktivitas kesukaannya. Ah, Amira…. siapa dulu dong tantenya…?
Terakhir. Azzahra Rhoudathul Jannah (Teteh Zahra). Cucu perempuan terbesar dari trah Dudu Abdullah. Pembawaannya yang kalem dan cool mencerminkan kecerdasan emosinya lebih tinggi daripada jumlah usianya. Prestasi pertamanya di bidang pendidikan adalah lolos dengan nilai sempurna untuk masuk ke SD Negeri percontohan nomor satu di Kota Bogor. Bola mata hitamnya yang bulat dan beningselalu menari-nari kegeeran saat ayahnya memanggil dia manja dengan panggilan “Teteh BeCe” (BeCe adalah singkatan dari Beauty and Cool). “Teteh sayang bi eneng….” adalah ungkapan spontan yang keluar dari mulutnya setiap kali dia memelukku eratsebagai tanda berpisah dari setiap perjumpaan kami. Spontanitas yang hanya bisa dikeluarkan dari mulut seorang anak dengan kecerdasan emosi diatas rata-rata. Siapa dulu dong tantenya….?
Ketiga bocah cilik itu adalah tiga orang keponakan perempuan mutiaraku.
Mutiara? Bicara soal mutiara, kuusap pelan perutku. Dimana gerangan mutiara sejati yang sudah lebih dari dua tahun ini aku nantikan…?
Perutku masih rata seperti sebelum ijab kabul pernikahan terikrar lantang dari mulut suamiku. Belum ada tanda-tanda kemunculan benih trah Dudu Abdullah dan O.K. Ibrahim yang baru dari anak-anak bungsu mereka.
Sampai saat ini masih harus kugelengkan kepalaku saat bertubi pertanyaan soal anak muncul menghampiri. Gelengan kepala yang membuat detak jantungku lebih cepat berdegup. Pertanyaan yang sangat tak kuharapkan.
“Sudah isi belum…?”
Ah… ingin rasanya memicingkan mata, menegadahkan kepala, memalingkan muka, lalu mengambil langkah seribu dari setiap makhluk yang datang membawa pertanyaan “keramat” itu. Hanya hatiku yang bisa menjerit. Karena jasad tak kuasa menampakkan kekecewaan atas pertanyaan itu.
“Ya tentu saja aku memang belum hamil, kalaupun sudah, setiap orang pasti akan aku beritahukan pengumuman bahagia itu! Kalau belum mendengarnya, ya tentu saja aku belum hamil… Apa ada masalah dengan itu semua? Apakah merugikan orang lain? Apakah dengan melontarkan pertanyaan itu bisa membuat aku menjadi hamil? Kalau ternyata tidak bisa, buat apa bertanya…?” Duh Robbi, tak kuasa kuredam jeritan hatiku ini………
Kembali kutatap tiga bidadari perempuan yang masih melekat di LCD satelite A200-ku. Kekesalan itu hilang seketika. Wajah mereka mampu menjadi magnet pengusir emosi seputar pertanyaan keramat tadi. Teduh. Itulah yang kurasakan dari tatapan mata ketiganya.
Mereka telah mampu menjadi obat dari kerinduanku yang mendalam akan hadirnya sang mutiara sejati, buah cinta antara aku dan pujaan hatiku. Keberadaan mereka telah mampu membuatku tetap berdiri, meyakinkan jiwaku kalau penantianku pada akhirnya akan berbuah bahagia…. entah kapan, tapi sambil mengusap kembali perutku, hatiku mantap bergumam :
“Duhai mutiara sejatiku, sabarlah untuk tetap menunggu, sampai Alloh tetapkan waktu untuk kehidupansementaramu di rahim Bunda yang telah menantimu dengan sepenuh cinta………..”
Karawang, 5 Desember 2008